Saturday, 4 February 2023

Berita

Berita Utama

BP2MI dan Senator Sylvi Gelar Sosialisasi di SMK Negeri 24 Jakarta

-

00.10 27 October 2022 317

BP2MI dan Senator Sylvi Gelar Sosialisasi di SMK Negeri 24 Jakarta

Jakarta, BP2MI (27/10) - Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) kembali menggelar sosialisasi penempatan dan pelindungan Pekerja Migran Indonesia (PMI). 

Pada agenda yang digelar di SMK Negeri 24 Jakarta, Kamis (27/10) tersebut, diisi oleh Ketua Badan Kerjasama Parlemen (BKSP) Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI), Sylviana Murni; Direktur Sistem dan Strategi Penempatan dan Pelindungan Kawasan Eropa dan Timur Tengah BP2MI, Abd. Ghofar; serta Sekretaris Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Energi (Disnakertrans), Hedy Wijaya sebagai narasumber.

Dalam kesempatan tersebut, Sylviana Murni mengatakan bahwa bekerja di luar negeri sejatinya mudah. Namun ia menekankan bahwa perlu untuk berangkat secara legal.

"Kalau tidak nanti ada tantangannya. Karena itu, siapkan diri kalau mau berangkat ke luar negeri. Kalau berangkat secara resmi, negara sudah pasti menjamin keamanan dan keselamatan PMI," ujar Sylvi.

Ia melanjutkan, terdapat beberapa risiko apabila menjadi pekerja migran nonprosedural. Di antaranya gaji rendah bahkan tidak dibayar, bekerja tidak tenang karena bermasalah dengan hukum, melanggar hukum sehingga dapat ditangkap dan dideportasi, tidak ada kepastian jaminan pelindungan, serta kesulitan penanganan masalah karena tidak tercatat pada sistem pemerintah.

Sylvi lalu mengungkapkan, kiat menjadi PMI yang profesional. "To be profesional, bagaimana menjadi profesional, do your best. Bekerjalah semaksimal mungkin dengan yang terbaik pada dalam diri," ungkapnya.

Sementara itu, Abd. Ghofar memaparkan berbagai negara penempatan yang terbuka dengan berbagai skema. Salah satunya adalah Government to Government (G to G).

"Sampai saat ini, yang sudah existing untuk skema G to G, ada dua yaitu Korea Selatan dan Jepang. Korea Selatan khusus untuk manufacture dan fishing. Untuk yang Jepang masih untuk nurse dan careworker," papar Ghofar.

Ghofar melanjutkan, selanjutnya juga akan diberangkatkan para Calon PMI skema G to G dengan negara penempatan Jerman. Ia juga menuturkan, gaji yang diterima dari tiga negara penempatan dengan skema G to G.

"Insya Allah akhir tahun ini sekitar bulan November atau Desember, ada pecah telur untuk G to G Jerman. Jadi MoU-nya sudah dibuat untuk G to G Jerman, dan akan diberangkatkan sekitar 185 perawat ke Jerman. Kita ketahui untuk yang Jepang gajinya sekitar 17 juta per bulan, untuk Korea Selatan bisa 22 juta per bulan, dan untuk Jerman sekitar 34 juta," tuturnya.

Dalam kesempatan tersebut, turut hadir peserta sosialisasi dari berbagai SMK di Jakarta. **(Humas/MSA)